Makam KH. Mukhtar Syafaat
18.37.00
Makamnya terletak di kompleks pemakaman keluarga Pondok Pesantren Darussalam Blokagung desa Karangdoro kecamatan Tegalsari Kabupaten Banyuwangi.
Sekilas KH. Mukhtar Syafaat
Salah satu ulama terkemuka di Banyuwangi ini
terkenal dengan sikap dan perilaku yang menjadi panutan umat. Dialah KH
Mukhtar Syafaat, pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Darussalam,
BlokAgung, Jajag, Banyuwangi
Suatu waktu, Kyai Dimyati (putra KH Ibrahim) mengalami jadzab (“nyleneh”). Ia mengusir Syafa’at dan kedua sahabatnya yang bernama Mawardi dan Keling. Ketiganya adalah santri yang dibencinya. Saat Kyai Syafa’at sedang mengajar, Kyai Dimyati (Syarif) melemparinya dengan maksud agar Syafa’at meninggalkan pondok. Akhirnya Syafa’at meningalkan Pondok Pesantren Jalen Genteng yang diikuti oleh salah satu santri yang bernama Muhyidin, santri asal Pacitan ke kediaman kakak perempuannya Uminatun yang terletak di Blokagung.
Selama di Blokagung ini, ia mulai mengajar di Musala milik kakak perempuanya itu. Mula-mula ia Al-Qur’an dan beberapa kitab dasar kepada para pemuda masyarakat sekitar dan akhirnya para santri yang dahulu menetap di Pondok Pesantren Jalen Genteng turut belajar di Musala kecil itu. Beberapa bulan kemudian, musala itu sudah tidak dapat menampung lagi para santri yang ingin belajar kepadanya. Akhirnya, tempat belajar pindah ke masjid milik Kyai Hamid yang berada tidak jauh dari musala.
Itulah sekilas latar belakang KH Muktar Syafaat Abdul Ghafur seorang ulama dan guru panutan umat. Ia lahir di dusun Sumontoro, Desa Ploso Lor, Kec Ploso Wetan, Kediri, 6 Maret 1919. Ia adalah putra keempat dari pasangan suami-isteri KH Abdul Ghafur dan Nyai Sangkep. Kalau dilihat dari silsilah keturunan, KH Mukhtar Syafa’at merupakan salah seorang keturunan pejuang dan ulama, dari silsilah ayahnya, yakni KH Mukhtar Syafa’at putra dari Syafa’at bin Kyai Sobar Iman bin Sultan Diponegoro III (keturunan prajurit Pangeran Diponegoro) dan garis ibu, yaitu Nyai Sangkep binti Kyai Abdurrohman bin Kyai Abdullah (keturunan prajurit Untung Suropati).
Sejak usia kanak-kanak (4 tahun), Syafa’at telah menunjukkan sikap dan perilaku cinta terhadap ilmu pengetahuan dan berkemauan keras mendalami agama Islam. Setiap sore hari, ia tekun mengaji ke mushola terdekat yang saat itu diasuh oleh Ustadz H. Ghofur. Dari sinilah ia mulai belajar membaca Al-Qur’an, tajwid dan Sulam Safinah. Pada tahun 1925 (usia 6 tahun), Syafa’at kemudian mengaji ke Kyai Hasan Abdi selama 3 tahun di desa Blokagung, Tegalsari, Banyuwangi.
Selepas dikhitan pada tahun 1928, ia kemudian melanjutkan ke Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang yang saat itu diasuh oleh KH. Hasjim Asy’ari. Di pesantren ini, ia seperti umumnya santri-santri lain mendalami ilmu-ilmu agama Islam seperti Ilmu Nahwu, Shorof, Fiqih, Tafsir Al-Qur’an dan Akhlaq Tasawuf. Setelah 6 tahun menimba ilmu di Pondok Tebuireng, pada tahun 1936 ia diminta pulang oleh ayahnya agar saudaranya yang lain secara bergantian dapat mengenyam pendidikan pesantren.
Permintaan tersebut ditampiknya secara halus, karena ia ingin mendalami dan menguasai ilmu-ilmu pesantren. Atas saran salah satu kakaknya, yakni Uminatun (Hj. Fatimah) pada tahun 1937 ia akhirnya meneruskan studi ke Pondok Pesantren Minhajut Thulab, Sumber Beras, Muncar, Banyuwangi yang diasuh KH. Abdul Manan.
Selama menjadi santri di ponpes Minhajut Thulab, Syafa’at sering jatuh sakit. Setelah satu tahun, ia akhirnya pindah lagi ke Ponpes Tasmirit Tholabah yang diasuh oleh KH Ibrahim. Di pondok ini selain belajar, ia juga dipercaya oleh KH Ibrahim untuk mengajar ke santri lain. Di Pondok ini juga, Syafa’at mulai mengkaji ilmu-ilmu tasawuf, seperti belajar kitab Ihya Ulumiddin karya Syekh Imam Al-Ghozali.
Pemahaman ini tidak sebatas pelajaran teori saja, namun juga ia praktekan secara langsung seperti saat mandi, shalat fardhu, dan berhubungan dengan lain jenis. Saat mandi, ia tidak pernah menanggalkan seluruh pakaiannya, dan tidak pernah melihat auratnya. Selain itu, selama di Ponpes Tasmirit Tholabah ia senantiasa shalat berjamaah di masjid. Padahal, ia termasuk kriteria “santri kasab”, yaitu santri yang mondok sambil bekerja kepada masyarakat sekitar.
Selama masih menuntut ilmu dan merasa belum waktunya menikah, Mukhtar Syafa’at senantiasa memelihara diri dan menjaga jarak dengan hubungan lain jenis. Suatu hari, ia oleh teman-teman santri dijodoh-jodohkan dengan seorang gadis masyarakat sekitar Pondok Tasmirit Tholabah. Apa reaksinya? Ia justru bersikap dan berperilaku layaknya orang gila dengan cara memakai pakaian yang tidak wajar. Dengan demikian, gadis yang dijodoh-jodohkan tersebut beranggapan bahwa Syafa’at adalah benar-benar gila, dan praktis keberatan bila dijodohkan.
Pengembaraan kyai Syafaat dalam menuntut ilmu adalah perjalanan panjang yang menuntut perjuangan, ketabahan hati dan pengorbanan. Ia seringkali dalam situasi dan kondisi yang memprihatinkan. Salah seorang sahabatnya ketika belajar di Ponpes Tasmirit Tholabah, KH Mu’allim Syarkowi menuturkan keadaannya,”KH Syafa’at(Alm) ketika belajar di Pondok Tasmirit Tholabah, Jalan Genteng Banyuwangi, sangatlah menderita. Ia sering jatuh sakit, terutama penyakit kudis (gudik). Disamping itu, ia tidak mendapat kiriman dari orang tuanya sehingga harus belajar sambil bekerja. Apabila musim tanam dan musim panen tiba, kami harus mendatangi petani untuk bekerja. Pagi-pagi benar kami harus sudah berangkat dan menjelang Dzuhur kami baru pulang. Sedangkan malam hari kami gunakan untuk belajar mengaji.”
Walaupun dalam kondisi yang memprihatinkan, Kyai Syafa’at tetap bersikeras untuk mendalami ilmu-ilmu agama Islam. Semasa masa pendudukan Jepang antara tahun 1942-1945, ia juga turut berperan aktif dalam bela negara dan merebut kemerdekaan RI.Oleh teman-teman seperjuangan, ia diangkat sebagai juru fatwa dan sumber ide dalam penyerangan. Setiap akan melangkah, mereka meminta pertimbangan dahulu kepada Syafa’at.
Pada jaman pendudukan Jepang, Syafa’at tidak luput dari gerakan Dai Nippon Jepang yang bernama Hako Kotai, yaitu gerakan pemerasan terhadap harta, jiwa dan harta bangsa Indonesia demi kemenangan Perang Asia Timur Raya. dalam gerakan ini, Syafa’at diwajibkan mengikuti kerja paksa selama 7 hari di Tumpang Pitu (pesisir laut pantai selatan teluk Grajagan dan Lampon). Ia dipekerjakan sebagai penggali parit perlindungan tentara Jepang.
Saat Belanda mendarat di pelabuhan Meneng, Sukowati, Banyuwangi Syafa’at tidak tinggal diam. Ia bergabung dalam Barisan Keamanan Rakyat yang dipimpin Kapten Sudarmin. Syafa’at juga turut aktif melakukan penyerbuan ke kamp-kamp tentara Belanda saat perang gerilya dengan bergabung dalam Font Kayangan Alas Purwo dan Sukamande kecamatan Pesangaran yang dipimpin Kyai Muhammad dan Kyai Musaddad.
Lepas dari alam penjajahan Jepang dan Belanda, tepatnya pada tahun 1949 ia mulai merintis berdirinya Pesantren Darussalam. Setelah melalui perjuangan yang berat, pesantren Darussalam akhirnya berkembang dari waktu ke waktu dan jumlah santrinya pun semakin bertambah banyak. Ini tak lepas dari sosok pendiri dan pengasuh pesantren KH Syafa’at yang menjadi sosok teladan sekaligus panutan umat.
Ia juga kerap dimintai pertolongan untuk melakukan pengobatan masyarakat. Dengan cara menulis lafadz Ya’lamuuna, selepas itu pada huruf ‘Ain ditancapkan paku sambil dipukul palu. Sesekali KH Syafa’at menanyai pasien, apakah masih sakit atau tidak. Kalau masih sakit, dipukul lagi dan jika makin parah maka pada huruf Mim juga akan ditancapkan paku dan dipukul lagi sebagaimana huruf ‘Ain. Konon, pengobatan tradisional ini banyak melegakan pasien. Selain itu, ia juga sering dimintai untuk mengobati dan menangkal gangguan santet dan sejenisnya. Sehingga rumahnya kerap dikunjungi para tamu dari berbagai daerah. “Kalau kalian mengetahui ada tamu, maka beri tahu saya. Kalau saya tidak ada atau bepergian, silahkan tamu tersebut singgah ke rumah barang sejenak dan hormatilah mereka dengan baik. Kemudian, pintu rumah jangan ditutup sebelum jam 22.00,” demikian pesan KH. Syafa’at kepada keluarga dan para santri.
KH Syafaat juga dikenal sebagai pribadi yang penuh kesedehanaan, qanaah, teguh menjaga muru’ah (harga diri) dan luhur budinya. Ia tidak pernah merasa rendah di hadapan orang-orang yang kaya, apalagi sampai merendahkan diri pada mereka dan ia tidak malas beribadah karena kefakirannya. Bahkan jika disedekahi harta, ia tidak mau menerima. Sekalipun diterima itu pun hanya sebatas yang diperlukan saja, tidak tamak untuk mengumpulkannya.
Bahkan Kyai Sya’aat dikenal punya semangat memberi dan memuaskan setiap orang yang datang kepadanya. Pernah suatu saat Kyai Syafa’at akan berangkat Haji, terlebih dahulu ia berziarah ke makam Sunan Ampel di Surabaya. Lepas dari komplek makam, ia bertemu dengan ratusan pengemis dan ia memberikan shodaqah kepada para pengemis di sekitar makam sampai uangnya habis. Bahkan karena sebagian pengemis itu tidak kebagian, ia kemudian menyuruh salah satu santrinya untuk mencarikan hutangan sejumlah empat juta rupiah kepada Masyhuri di Surabaya untuk disedekahkan kepada para pengemis yang tidak kebagian.
Tidak hanya itu, sering uang bisyaroh selepas mengisi pengajian di banyak tempat di berikan langsung kepada orang-orang yang tidak dikenalnya, tanpa menghitung jumlah uang yang diterimanya. Selain dermawan akan harta dan ilmu, KH Syafa’at dikenal seorang ulama yang wira’i ( menjaga kehormatan).
Suatu ketika Kyai bepergian dengan ditemani oleh salah satu sopir, H Mudhofar, sampai di Karangdoro mobilnya rusak (mogok). Akhirnya mobil dibenahi dan oleh H. Mudhofar diambilkan batu bata untuk mengganjal mobil, di salah satu perumahan penduduk. Setelah selesai, mobil berjalan dan KH Syafa’at bertanya,”Batu bata itu milik siapa? Kalau punya orang, kembalikan!” Akhirnya mobil berhenti dan batu bata tersebut oleh H. Mudhofar dikembalikan ke tempatnya semula.
Selain aktif dalam kegiatan kemasyarakatan, KH. Syafa’at juga aktif dalam Jami’ah Keagamaan Nahdlatul Ulama. Tercatat, ia pernah menjadi pengurus dari tingkat ranting sampai cabang. Jabatan terakhirnya adalah sebagai salah satu Mustasyar wilayah Banyuwangi, Jawa Timur.
KH Syafaat pada hari Jumat malam, 1 Februari 1991 (17 Rajab 1411 H) dengan meninggalkan 14 anak (10 putra, 4 putri) dari perkawinannya dengan Nyai Siti Maryam dan 7 anak (4 putra, 3 putri) dari perkawinannya dengan Nyai Hj Musyarofah. Jenazah setelah disemayamkan di rumah duka dan dishalati oleh mu’aziyin sampai 17 kali kemudian dimakamkan komplek makam keluarga, sekitar 100 meter arah utara dari Pesantren Darussalam, Blokagung, Banyuwangi.
AST/Ft AST
Suatu waktu, Kyai Dimyati (putra KH Ibrahim) mengalami jadzab (“nyleneh”). Ia mengusir Syafa’at dan kedua sahabatnya yang bernama Mawardi dan Keling. Ketiganya adalah santri yang dibencinya. Saat Kyai Syafa’at sedang mengajar, Kyai Dimyati (Syarif) melemparinya dengan maksud agar Syafa’at meninggalkan pondok. Akhirnya Syafa’at meningalkan Pondok Pesantren Jalen Genteng yang diikuti oleh salah satu santri yang bernama Muhyidin, santri asal Pacitan ke kediaman kakak perempuannya Uminatun yang terletak di Blokagung.
Selama di Blokagung ini, ia mulai mengajar di Musala milik kakak perempuanya itu. Mula-mula ia Al-Qur’an dan beberapa kitab dasar kepada para pemuda masyarakat sekitar dan akhirnya para santri yang dahulu menetap di Pondok Pesantren Jalen Genteng turut belajar di Musala kecil itu. Beberapa bulan kemudian, musala itu sudah tidak dapat menampung lagi para santri yang ingin belajar kepadanya. Akhirnya, tempat belajar pindah ke masjid milik Kyai Hamid yang berada tidak jauh dari musala.
Itulah sekilas latar belakang KH Muktar Syafaat Abdul Ghafur seorang ulama dan guru panutan umat. Ia lahir di dusun Sumontoro, Desa Ploso Lor, Kec Ploso Wetan, Kediri, 6 Maret 1919. Ia adalah putra keempat dari pasangan suami-isteri KH Abdul Ghafur dan Nyai Sangkep. Kalau dilihat dari silsilah keturunan, KH Mukhtar Syafa’at merupakan salah seorang keturunan pejuang dan ulama, dari silsilah ayahnya, yakni KH Mukhtar Syafa’at putra dari Syafa’at bin Kyai Sobar Iman bin Sultan Diponegoro III (keturunan prajurit Pangeran Diponegoro) dan garis ibu, yaitu Nyai Sangkep binti Kyai Abdurrohman bin Kyai Abdullah (keturunan prajurit Untung Suropati).
Sejak usia kanak-kanak (4 tahun), Syafa’at telah menunjukkan sikap dan perilaku cinta terhadap ilmu pengetahuan dan berkemauan keras mendalami agama Islam. Setiap sore hari, ia tekun mengaji ke mushola terdekat yang saat itu diasuh oleh Ustadz H. Ghofur. Dari sinilah ia mulai belajar membaca Al-Qur’an, tajwid dan Sulam Safinah. Pada tahun 1925 (usia 6 tahun), Syafa’at kemudian mengaji ke Kyai Hasan Abdi selama 3 tahun di desa Blokagung, Tegalsari, Banyuwangi.
Selepas dikhitan pada tahun 1928, ia kemudian melanjutkan ke Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang yang saat itu diasuh oleh KH. Hasjim Asy’ari. Di pesantren ini, ia seperti umumnya santri-santri lain mendalami ilmu-ilmu agama Islam seperti Ilmu Nahwu, Shorof, Fiqih, Tafsir Al-Qur’an dan Akhlaq Tasawuf. Setelah 6 tahun menimba ilmu di Pondok Tebuireng, pada tahun 1936 ia diminta pulang oleh ayahnya agar saudaranya yang lain secara bergantian dapat mengenyam pendidikan pesantren.
Permintaan tersebut ditampiknya secara halus, karena ia ingin mendalami dan menguasai ilmu-ilmu pesantren. Atas saran salah satu kakaknya, yakni Uminatun (Hj. Fatimah) pada tahun 1937 ia akhirnya meneruskan studi ke Pondok Pesantren Minhajut Thulab, Sumber Beras, Muncar, Banyuwangi yang diasuh KH. Abdul Manan.
Selama menjadi santri di ponpes Minhajut Thulab, Syafa’at sering jatuh sakit. Setelah satu tahun, ia akhirnya pindah lagi ke Ponpes Tasmirit Tholabah yang diasuh oleh KH Ibrahim. Di pondok ini selain belajar, ia juga dipercaya oleh KH Ibrahim untuk mengajar ke santri lain. Di Pondok ini juga, Syafa’at mulai mengkaji ilmu-ilmu tasawuf, seperti belajar kitab Ihya Ulumiddin karya Syekh Imam Al-Ghozali.
Pemahaman ini tidak sebatas pelajaran teori saja, namun juga ia praktekan secara langsung seperti saat mandi, shalat fardhu, dan berhubungan dengan lain jenis. Saat mandi, ia tidak pernah menanggalkan seluruh pakaiannya, dan tidak pernah melihat auratnya. Selain itu, selama di Ponpes Tasmirit Tholabah ia senantiasa shalat berjamaah di masjid. Padahal, ia termasuk kriteria “santri kasab”, yaitu santri yang mondok sambil bekerja kepada masyarakat sekitar.
Selama masih menuntut ilmu dan merasa belum waktunya menikah, Mukhtar Syafa’at senantiasa memelihara diri dan menjaga jarak dengan hubungan lain jenis. Suatu hari, ia oleh teman-teman santri dijodoh-jodohkan dengan seorang gadis masyarakat sekitar Pondok Tasmirit Tholabah. Apa reaksinya? Ia justru bersikap dan berperilaku layaknya orang gila dengan cara memakai pakaian yang tidak wajar. Dengan demikian, gadis yang dijodoh-jodohkan tersebut beranggapan bahwa Syafa’at adalah benar-benar gila, dan praktis keberatan bila dijodohkan.
Pengembaraan kyai Syafaat dalam menuntut ilmu adalah perjalanan panjang yang menuntut perjuangan, ketabahan hati dan pengorbanan. Ia seringkali dalam situasi dan kondisi yang memprihatinkan. Salah seorang sahabatnya ketika belajar di Ponpes Tasmirit Tholabah, KH Mu’allim Syarkowi menuturkan keadaannya,”KH Syafa’at(Alm) ketika belajar di Pondok Tasmirit Tholabah, Jalan Genteng Banyuwangi, sangatlah menderita. Ia sering jatuh sakit, terutama penyakit kudis (gudik). Disamping itu, ia tidak mendapat kiriman dari orang tuanya sehingga harus belajar sambil bekerja. Apabila musim tanam dan musim panen tiba, kami harus mendatangi petani untuk bekerja. Pagi-pagi benar kami harus sudah berangkat dan menjelang Dzuhur kami baru pulang. Sedangkan malam hari kami gunakan untuk belajar mengaji.”
Walaupun dalam kondisi yang memprihatinkan, Kyai Syafa’at tetap bersikeras untuk mendalami ilmu-ilmu agama Islam. Semasa masa pendudukan Jepang antara tahun 1942-1945, ia juga turut berperan aktif dalam bela negara dan merebut kemerdekaan RI.Oleh teman-teman seperjuangan, ia diangkat sebagai juru fatwa dan sumber ide dalam penyerangan. Setiap akan melangkah, mereka meminta pertimbangan dahulu kepada Syafa’at.
Pada jaman pendudukan Jepang, Syafa’at tidak luput dari gerakan Dai Nippon Jepang yang bernama Hako Kotai, yaitu gerakan pemerasan terhadap harta, jiwa dan harta bangsa Indonesia demi kemenangan Perang Asia Timur Raya. dalam gerakan ini, Syafa’at diwajibkan mengikuti kerja paksa selama 7 hari di Tumpang Pitu (pesisir laut pantai selatan teluk Grajagan dan Lampon). Ia dipekerjakan sebagai penggali parit perlindungan tentara Jepang.
Saat Belanda mendarat di pelabuhan Meneng, Sukowati, Banyuwangi Syafa’at tidak tinggal diam. Ia bergabung dalam Barisan Keamanan Rakyat yang dipimpin Kapten Sudarmin. Syafa’at juga turut aktif melakukan penyerbuan ke kamp-kamp tentara Belanda saat perang gerilya dengan bergabung dalam Font Kayangan Alas Purwo dan Sukamande kecamatan Pesangaran yang dipimpin Kyai Muhammad dan Kyai Musaddad.
Lepas dari alam penjajahan Jepang dan Belanda, tepatnya pada tahun 1949 ia mulai merintis berdirinya Pesantren Darussalam. Setelah melalui perjuangan yang berat, pesantren Darussalam akhirnya berkembang dari waktu ke waktu dan jumlah santrinya pun semakin bertambah banyak. Ini tak lepas dari sosok pendiri dan pengasuh pesantren KH Syafa’at yang menjadi sosok teladan sekaligus panutan umat.
Ia juga kerap dimintai pertolongan untuk melakukan pengobatan masyarakat. Dengan cara menulis lafadz Ya’lamuuna, selepas itu pada huruf ‘Ain ditancapkan paku sambil dipukul palu. Sesekali KH Syafa’at menanyai pasien, apakah masih sakit atau tidak. Kalau masih sakit, dipukul lagi dan jika makin parah maka pada huruf Mim juga akan ditancapkan paku dan dipukul lagi sebagaimana huruf ‘Ain. Konon, pengobatan tradisional ini banyak melegakan pasien. Selain itu, ia juga sering dimintai untuk mengobati dan menangkal gangguan santet dan sejenisnya. Sehingga rumahnya kerap dikunjungi para tamu dari berbagai daerah. “Kalau kalian mengetahui ada tamu, maka beri tahu saya. Kalau saya tidak ada atau bepergian, silahkan tamu tersebut singgah ke rumah barang sejenak dan hormatilah mereka dengan baik. Kemudian, pintu rumah jangan ditutup sebelum jam 22.00,” demikian pesan KH. Syafa’at kepada keluarga dan para santri.
KH Syafaat juga dikenal sebagai pribadi yang penuh kesedehanaan, qanaah, teguh menjaga muru’ah (harga diri) dan luhur budinya. Ia tidak pernah merasa rendah di hadapan orang-orang yang kaya, apalagi sampai merendahkan diri pada mereka dan ia tidak malas beribadah karena kefakirannya. Bahkan jika disedekahi harta, ia tidak mau menerima. Sekalipun diterima itu pun hanya sebatas yang diperlukan saja, tidak tamak untuk mengumpulkannya.
Bahkan Kyai Sya’aat dikenal punya semangat memberi dan memuaskan setiap orang yang datang kepadanya. Pernah suatu saat Kyai Syafa’at akan berangkat Haji, terlebih dahulu ia berziarah ke makam Sunan Ampel di Surabaya. Lepas dari komplek makam, ia bertemu dengan ratusan pengemis dan ia memberikan shodaqah kepada para pengemis di sekitar makam sampai uangnya habis. Bahkan karena sebagian pengemis itu tidak kebagian, ia kemudian menyuruh salah satu santrinya untuk mencarikan hutangan sejumlah empat juta rupiah kepada Masyhuri di Surabaya untuk disedekahkan kepada para pengemis yang tidak kebagian.
Tidak hanya itu, sering uang bisyaroh selepas mengisi pengajian di banyak tempat di berikan langsung kepada orang-orang yang tidak dikenalnya, tanpa menghitung jumlah uang yang diterimanya. Selain dermawan akan harta dan ilmu, KH Syafa’at dikenal seorang ulama yang wira’i ( menjaga kehormatan).
Suatu ketika Kyai bepergian dengan ditemani oleh salah satu sopir, H Mudhofar, sampai di Karangdoro mobilnya rusak (mogok). Akhirnya mobil dibenahi dan oleh H. Mudhofar diambilkan batu bata untuk mengganjal mobil, di salah satu perumahan penduduk. Setelah selesai, mobil berjalan dan KH Syafa’at bertanya,”Batu bata itu milik siapa? Kalau punya orang, kembalikan!” Akhirnya mobil berhenti dan batu bata tersebut oleh H. Mudhofar dikembalikan ke tempatnya semula.
Selain aktif dalam kegiatan kemasyarakatan, KH. Syafa’at juga aktif dalam Jami’ah Keagamaan Nahdlatul Ulama. Tercatat, ia pernah menjadi pengurus dari tingkat ranting sampai cabang. Jabatan terakhirnya adalah sebagai salah satu Mustasyar wilayah Banyuwangi, Jawa Timur.
KH Syafaat pada hari Jumat malam, 1 Februari 1991 (17 Rajab 1411 H) dengan meninggalkan 14 anak (10 putra, 4 putri) dari perkawinannya dengan Nyai Siti Maryam dan 7 anak (4 putra, 3 putri) dari perkawinannya dengan Nyai Hj Musyarofah. Jenazah setelah disemayamkan di rumah duka dan dishalati oleh mu’aziyin sampai 17 kali kemudian dimakamkan komplek makam keluarga, sekitar 100 meter arah utara dari Pesantren Darussalam, Blokagung, Banyuwangi.
AST/Ft AST

Sejarah
18.29.00
LEGENDA BANYUWANGI
Konon, dahulu kala wilayah ujung timur
pulau jawa, yang lamnya begitu indah ini dipimpin oleh seorang raja
bernama Prabu Sulahkromo. Dalam menjalankan pemerintahanya, sang raja
dibantu seorang patih yang gagah berani, arif dan tampan bernama patih
Sidopekso. Istri patih Sidopekso yang bernama Sritanjung sangat elok
parasnya, dan lembut tutur katanya, sehingga membuat raja tergila-gila
kepadanya. Agar tercapainya hasrat sang raja untuk membujuk dan merayu
sritanjung, dengan akal liciknya sang raja memerintahkan patih sidopekso
untuk menjalankan tugas yang tidak mungkin dicapai oleh manusia biasa.
Dengan tegas dan gagah berani, tanpa curiga, sang patih berangkat untuk
menjalankan titah raja.
Sepeninggalan patih sidopekso, prabu
Sulahkromo berusaha merayu, bahkan memfirnah Sidopekso, dengan segala
tipudayanya. Namun cinta sang raja hanya bertepuk sebelah tangan, karena
Sritanjung tetap setia sebagai istri yang selalu berdoa untuk suaminya.
Hati sang raja pun membara dibakar api
cemburu dan murka, setelah cintanya ditolak oleh Sritanjung. Setela
kembali dari misi tugasnya, patih Sidopekso langsung menghadap raja.
Akal busuk sang raja muncul, dia memfitnah istri patih Sidopekso dengan
menceritakan bahwa sepeninggal patih saat menjalankan titah raja,
Sritanjung mendatangi dan merayu, lalu berselingkuh dengan raja.
Rupanya, patih Sidopekso terpengaruh
cerita sang raja. Sang patih langsung menemui Sritanjung dengan penuh
kemarahan dan tuduhan yang tidak beralasa. Pengakuan sritanjung yang
jujur tak menggoyahkan hati patih Sidopekso yang terlanjur panas
terbakar rasa amarah. Bahkan sang patih yang mampu membendung emosinya
mengancam akan membunuh istri setianya itu.
Sritanjung diseret ke tepi sungai yang
kumuh dan keruh. Namun sebelum patih Sidopekso membunuh Sritanjung, ada
permintaan terakhir dan istrinya sebagai bukti kejujuran kesucian, dan
kesetiaannya. Sritanjung rela di bunuh, tetapi dia minta jasadnya
diceburkan kedalam sungai keruh itu. Apabila darahnya membuat air sungai
berbau busuk berarti dirinya telah melanggar kesetiaan. Tetapi jika air
sungai berbau harum berarti dia tidak bersalah.
Setelah Sritanjung menyampaikan pesan
terakhirnya, Patih Sidopekso yang telah di rasuki amarah tersebut
langsung menghunuskan pedangnya ketubuh Sritanjung dan menceburkan
jasadnya kedalam sungai yang kumur dan keruh tersebut. Beberapa saat
setelah jasad Sritanjung masuk kedalam sungai, tiba-tiba air sungai yang
kumuh dan keruh tersbut berubah menjadi jernih dan berbau harum/wangi.
Dari cerita legenda Patih Sidopekso yang
gagah berani dan istrinya Sritanjung itulah akhirnya muncul nama
“BANYUWANGI” yang artinya: Banyu=Air, dan Wangi=Harum
HARJABA (Hari Jadi Banyuwangi)
Berdasarkan data-data sejarah
Blambangan, tanggal 18 Desember 1771 merupakan peristiwa paling
bersejarah yang ditetapkan sebagai hari jadi Banyuwangi. Saat itu
terjadi peristiwa puncak Perang Puputan Bayu. Sebenarnya ada peristiwa
lain yang mendahuluinya, yang juga merupakan heroik-patriotik, yaitu:
Peristiwa penyerangan para pejuang Blambangan dibawah pimpinan Pangeran
Puger (Putra Wong Agung Wilis) ke Benteng VOC di Banyualit pada tahun
1768. Namun saya, peristiwa tersebut tidak tercatat secara lengkap
teradinya.
Berdasarkan data sejarah, nama
Banyuwangi tidak terlepas dengan kerajaan Blambangan. Sejak zaman
pangeran Tawang Alun (1655-1691) dan pangeran Danuningrat (1736-1763),
bahkan sampai ketika Blambangan berada dibawah perlindungan Bali
(1763-1767), VOC belum pernah tertarik untuk memasuki dan mengelola
Blambangan. Nah, pada tahun 1743, jawa bagian timur (termasuk
Blambangan) diserahkan oleh Pakubuwono II kepada VOC. Saat itu, VOC
sudah merasa Blambangan menjadi miliknya. Namun, untuk sementara masih
dibiarkan sebagai barang simpanan, dan baru akan dikelola sewaktu-waktu
ketika sudah diperlukan. Bahkan ketika Danuningrat meminta bantuan VOC
untuk melepaskan diri dari Bali, VOC masih belum tertarik untuk melihat
Blambangan, yang pada waktu itu disebut Tirtaganda, Tirtaarum atau
Tuyoarum.
Kala itu, VOC langsung bergerak untuk
segera merebut Banyuwangi dan mengamankan seluruh Blambangan. Secara
umum, dalam peperangan yang terjadi selama 5 tahun, pada tahun 1767-1772
itu, VOC memang berusaha untuk merebut seluruh Blambangan. Namun secara
khusus, sebenarnya VOC terdorong untuk segera merebut Banyuwangi, yang
waktu itu mulai berkembang menjadi pusat perdagangan di Blambangan, yang
telah dikuasai inggris.
Jadi, sudah jelas bahwa lahirnya sebuah
tempat, yang kemudian terkenal dengan nama Banyuwangi, telah menjadi
kasus jual-beli terjadinya peperangan dahsyat, perang Puputan Bayu.
Kalau saja inggris tidak bercokol di Banyuwangi pada tahun 1766, mungkin
VOC tidak akan buru-buru melakukan expansi ke Blmbangan pada tahun
1767. Dan karena peristiwa itu, puncak perang puputan bayu terjadi pada
tanggal 18 Desember 1771. Dengan demikian terdapat hubungan erat antara
perang puputan bayu dengan lahirnya sebuah tempat bernama Banyuwangi.
Dengan kata lain, Perang Puputan Bayu merupakan bagian dari proses
lahirnya Banyuwangi.
Jadi, penetapan tanggal 18 Desember 1771 sebagai hari jadi Banyuwangi didasarkan kepada fakta-fakta sejarah tersebut.
Sekilas Banyuwangi
18.25.00
Sekilas Banyuwangi
Banyuwangi adalah Kabupaten yang terletak di ujung timur pulau jawa. Disebelah utara, Banyuwangi berbatasan dengan Kabupaten Situbondo, sedangkan sebelah timur berbatasan dengan selat Bali dan sebelah selatan berbatasan denan Samudera Hindia.
Secara geografis Banyuwangi terletak
pada koordinat 7’45’15’-80 43’2′ bujur timur. Posisi tersebut membuat
Banyuwangi memiliki keanekaragaman pemandangan alam yang indah, kekayaan
seni dan budaya serta adat tradisi.
Panorama alam yang indah dan mempesona
membentang dari wilayah utara hingga selatan, serta wilayah barat hingga
timur. Hamparan gunung, hutan dan pantai memberikan corak yang berbeda
pada masing-masing daerah. Di sebelah utara terdapat kawah ijen yang
memiliki keindahan danau yang tiada duanya di dunia. Disebelah Selatan,
disuguhkan keajaiban taman nasional alas purwo dengan pantai Plengkung
(G-Land) yang berombak tinggi menjadi surga peselancar dunia, dilengkapi
dengan hutan alam yang masih perawan dan satwa liar yang habitatnya
sudah langka.
Tak kalah menariknya dengan wisata di
sebelah selatan kabupaten Banyuwangi adalah, Taman Nasional Merubetiri.
Disinilah habitat asli Harimau Jawa yang merupakan satu-satunya di
dunia. Selain itu, merubetiri juga sebagai tempat penangkaran penyu
terbesar di Indonesia.
Tiga tempat tersebut merupakan sentral
wilayah pengembangan pariwisata di Banyuwangi yang disebut dengan
“TRIANGLE DIAMOND” atau “SEGITIGA BERLIAN”.
Banyuwangi juga kaya akan keanegaragaman
seni dan budaya, serta adat tradisi. Salah satu kesenian khas
Banyuwangi yang sudah terkenal adalah Tari Gandrung, merupakan tarian
khas yang digunakan untuk menyambut para tamu, tarian ini menjadi maskot
pariwisata Banyuwangi. Beberapa kesenian khas Banyuwangi antara lain:
Seblang, Kuntulan, Damarwulan, Barong, Angklung, Kendang Kempul, Jaranan
dan kesenian khas daerah lainnya.
Tidak ketinggalan pula adat tradisi di
Banyuwangi yang setiap tahunnya selalu di laksanakan oleh masyarakat
Banyuwangi: Petik Laut, Metik (Metik Padi dan Kopi), Rebo Wekasan,
Kebo-keboan, Ruwatan, Tumplek Punjen, Gredoan, Endhog-endhogan dan masih
banyak lagi adat tradisi di Banyuwangi.
Kerajinan daerah dan makanan khas hasil
home industry penduduk lokal juga banyak di temui di Banyuwangi,
seperti: Kerajinan batik tulis, Anyaman bambu, Kerajinan Bathok kelapa
dan masih banyak lagi kerajinan khas Banyuwangi.
“Osing” adalah Suku Asli Banyuwangi dan
memiliki budaya dan bahasa tersendiri. Di Banyuwangi berdampingan
beberapa suku, antara lain: Jawa, Madura, Bali dan Banjar. Suku jawa
menjadi mayoritas penduduk Banyuwangi.
Banyuwangi kota yang elok,
dengan beragam tempat-tempat wisata eksotis khas tropis, Anda wajib
menjadi saksi keelokan Banyuwangi.
Pantai Grajagan
07.43.00
Pantai grajagan Berada di kurang lebih
35 km ke arah selatan kota Banyuwangi tepatnya di Desa Grajagan,
Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, pantai yang sangat indah dan
jauh dari keramaian kota ini banyak menjadi salah satu tujuan para
wisatawan yang singgah ke Banyuwangi. Banyak yang akan anda temui di
pantai seluas kurang lebih 315 hektar tersebut.
Gua yang di jadikan pertahanan jepang
menjadi salah satu obyek yang dicari bagi para wisatawan serta Pesona
perbukitan yang dapat kita daki menyajikan hamparan pantai yang bersih
dan luas serta perbukitan yang tinggi di tepi pantai. Ketika anda
berangkat di pagi hari, anda akan menemui aktivtas para petani yang
sedang berlayar di lautan untuk mencari iklan. Tempat yang terkenal
dengan sebutan petani nelayan ini sangat cocok untuk rekreasi keluarga
atau dengan krabat anda.
