Tampilkan postingan dengan label Wisata Religi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Religi. Tampilkan semua postingan
Makam KH. Mukhtar Syafaat
18.37.00
Makamnya terletak di kompleks pemakaman keluarga Pondok Pesantren Darussalam Blokagung desa Karangdoro kecamatan Tegalsari Kabupaten Banyuwangi.
Sekilas KH. Mukhtar Syafaat
Salah satu ulama terkemuka di Banyuwangi ini
terkenal dengan sikap dan perilaku yang menjadi panutan umat. Dialah KH
Mukhtar Syafaat, pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Darussalam,
BlokAgung, Jajag, Banyuwangi
Suatu waktu, Kyai Dimyati (putra KH Ibrahim) mengalami jadzab (“nyleneh”). Ia mengusir Syafa’at dan kedua sahabatnya yang bernama Mawardi dan Keling. Ketiganya adalah santri yang dibencinya. Saat Kyai Syafa’at sedang mengajar, Kyai Dimyati (Syarif) melemparinya dengan maksud agar Syafa’at meninggalkan pondok. Akhirnya Syafa’at meningalkan Pondok Pesantren Jalen Genteng yang diikuti oleh salah satu santri yang bernama Muhyidin, santri asal Pacitan ke kediaman kakak perempuannya Uminatun yang terletak di Blokagung.
Selama di Blokagung ini, ia mulai mengajar di Musala milik kakak perempuanya itu. Mula-mula ia Al-Qur’an dan beberapa kitab dasar kepada para pemuda masyarakat sekitar dan akhirnya para santri yang dahulu menetap di Pondok Pesantren Jalen Genteng turut belajar di Musala kecil itu. Beberapa bulan kemudian, musala itu sudah tidak dapat menampung lagi para santri yang ingin belajar kepadanya. Akhirnya, tempat belajar pindah ke masjid milik Kyai Hamid yang berada tidak jauh dari musala.
Itulah sekilas latar belakang KH Muktar Syafaat Abdul Ghafur seorang ulama dan guru panutan umat. Ia lahir di dusun Sumontoro, Desa Ploso Lor, Kec Ploso Wetan, Kediri, 6 Maret 1919. Ia adalah putra keempat dari pasangan suami-isteri KH Abdul Ghafur dan Nyai Sangkep. Kalau dilihat dari silsilah keturunan, KH Mukhtar Syafa’at merupakan salah seorang keturunan pejuang dan ulama, dari silsilah ayahnya, yakni KH Mukhtar Syafa’at putra dari Syafa’at bin Kyai Sobar Iman bin Sultan Diponegoro III (keturunan prajurit Pangeran Diponegoro) dan garis ibu, yaitu Nyai Sangkep binti Kyai Abdurrohman bin Kyai Abdullah (keturunan prajurit Untung Suropati).
Sejak usia kanak-kanak (4 tahun), Syafa’at telah menunjukkan sikap dan perilaku cinta terhadap ilmu pengetahuan dan berkemauan keras mendalami agama Islam. Setiap sore hari, ia tekun mengaji ke mushola terdekat yang saat itu diasuh oleh Ustadz H. Ghofur. Dari sinilah ia mulai belajar membaca Al-Qur’an, tajwid dan Sulam Safinah. Pada tahun 1925 (usia 6 tahun), Syafa’at kemudian mengaji ke Kyai Hasan Abdi selama 3 tahun di desa Blokagung, Tegalsari, Banyuwangi.
Selepas dikhitan pada tahun 1928, ia kemudian melanjutkan ke Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang yang saat itu diasuh oleh KH. Hasjim Asy’ari. Di pesantren ini, ia seperti umumnya santri-santri lain mendalami ilmu-ilmu agama Islam seperti Ilmu Nahwu, Shorof, Fiqih, Tafsir Al-Qur’an dan Akhlaq Tasawuf. Setelah 6 tahun menimba ilmu di Pondok Tebuireng, pada tahun 1936 ia diminta pulang oleh ayahnya agar saudaranya yang lain secara bergantian dapat mengenyam pendidikan pesantren.
Permintaan tersebut ditampiknya secara halus, karena ia ingin mendalami dan menguasai ilmu-ilmu pesantren. Atas saran salah satu kakaknya, yakni Uminatun (Hj. Fatimah) pada tahun 1937 ia akhirnya meneruskan studi ke Pondok Pesantren Minhajut Thulab, Sumber Beras, Muncar, Banyuwangi yang diasuh KH. Abdul Manan.
Selama menjadi santri di ponpes Minhajut Thulab, Syafa’at sering jatuh sakit. Setelah satu tahun, ia akhirnya pindah lagi ke Ponpes Tasmirit Tholabah yang diasuh oleh KH Ibrahim. Di pondok ini selain belajar, ia juga dipercaya oleh KH Ibrahim untuk mengajar ke santri lain. Di Pondok ini juga, Syafa’at mulai mengkaji ilmu-ilmu tasawuf, seperti belajar kitab Ihya Ulumiddin karya Syekh Imam Al-Ghozali.
Pemahaman ini tidak sebatas pelajaran teori saja, namun juga ia praktekan secara langsung seperti saat mandi, shalat fardhu, dan berhubungan dengan lain jenis. Saat mandi, ia tidak pernah menanggalkan seluruh pakaiannya, dan tidak pernah melihat auratnya. Selain itu, selama di Ponpes Tasmirit Tholabah ia senantiasa shalat berjamaah di masjid. Padahal, ia termasuk kriteria “santri kasab”, yaitu santri yang mondok sambil bekerja kepada masyarakat sekitar.
Selama masih menuntut ilmu dan merasa belum waktunya menikah, Mukhtar Syafa’at senantiasa memelihara diri dan menjaga jarak dengan hubungan lain jenis. Suatu hari, ia oleh teman-teman santri dijodoh-jodohkan dengan seorang gadis masyarakat sekitar Pondok Tasmirit Tholabah. Apa reaksinya? Ia justru bersikap dan berperilaku layaknya orang gila dengan cara memakai pakaian yang tidak wajar. Dengan demikian, gadis yang dijodoh-jodohkan tersebut beranggapan bahwa Syafa’at adalah benar-benar gila, dan praktis keberatan bila dijodohkan.
Pengembaraan kyai Syafaat dalam menuntut ilmu adalah perjalanan panjang yang menuntut perjuangan, ketabahan hati dan pengorbanan. Ia seringkali dalam situasi dan kondisi yang memprihatinkan. Salah seorang sahabatnya ketika belajar di Ponpes Tasmirit Tholabah, KH Mu’allim Syarkowi menuturkan keadaannya,”KH Syafa’at(Alm) ketika belajar di Pondok Tasmirit Tholabah, Jalan Genteng Banyuwangi, sangatlah menderita. Ia sering jatuh sakit, terutama penyakit kudis (gudik). Disamping itu, ia tidak mendapat kiriman dari orang tuanya sehingga harus belajar sambil bekerja. Apabila musim tanam dan musim panen tiba, kami harus mendatangi petani untuk bekerja. Pagi-pagi benar kami harus sudah berangkat dan menjelang Dzuhur kami baru pulang. Sedangkan malam hari kami gunakan untuk belajar mengaji.”
Walaupun dalam kondisi yang memprihatinkan, Kyai Syafa’at tetap bersikeras untuk mendalami ilmu-ilmu agama Islam. Semasa masa pendudukan Jepang antara tahun 1942-1945, ia juga turut berperan aktif dalam bela negara dan merebut kemerdekaan RI.Oleh teman-teman seperjuangan, ia diangkat sebagai juru fatwa dan sumber ide dalam penyerangan. Setiap akan melangkah, mereka meminta pertimbangan dahulu kepada Syafa’at.
Pada jaman pendudukan Jepang, Syafa’at tidak luput dari gerakan Dai Nippon Jepang yang bernama Hako Kotai, yaitu gerakan pemerasan terhadap harta, jiwa dan harta bangsa Indonesia demi kemenangan Perang Asia Timur Raya. dalam gerakan ini, Syafa’at diwajibkan mengikuti kerja paksa selama 7 hari di Tumpang Pitu (pesisir laut pantai selatan teluk Grajagan dan Lampon). Ia dipekerjakan sebagai penggali parit perlindungan tentara Jepang.
Saat Belanda mendarat di pelabuhan Meneng, Sukowati, Banyuwangi Syafa’at tidak tinggal diam. Ia bergabung dalam Barisan Keamanan Rakyat yang dipimpin Kapten Sudarmin. Syafa’at juga turut aktif melakukan penyerbuan ke kamp-kamp tentara Belanda saat perang gerilya dengan bergabung dalam Font Kayangan Alas Purwo dan Sukamande kecamatan Pesangaran yang dipimpin Kyai Muhammad dan Kyai Musaddad.
Lepas dari alam penjajahan Jepang dan Belanda, tepatnya pada tahun 1949 ia mulai merintis berdirinya Pesantren Darussalam. Setelah melalui perjuangan yang berat, pesantren Darussalam akhirnya berkembang dari waktu ke waktu dan jumlah santrinya pun semakin bertambah banyak. Ini tak lepas dari sosok pendiri dan pengasuh pesantren KH Syafa’at yang menjadi sosok teladan sekaligus panutan umat.
Ia juga kerap dimintai pertolongan untuk melakukan pengobatan masyarakat. Dengan cara menulis lafadz Ya’lamuuna, selepas itu pada huruf ‘Ain ditancapkan paku sambil dipukul palu. Sesekali KH Syafa’at menanyai pasien, apakah masih sakit atau tidak. Kalau masih sakit, dipukul lagi dan jika makin parah maka pada huruf Mim juga akan ditancapkan paku dan dipukul lagi sebagaimana huruf ‘Ain. Konon, pengobatan tradisional ini banyak melegakan pasien. Selain itu, ia juga sering dimintai untuk mengobati dan menangkal gangguan santet dan sejenisnya. Sehingga rumahnya kerap dikunjungi para tamu dari berbagai daerah. “Kalau kalian mengetahui ada tamu, maka beri tahu saya. Kalau saya tidak ada atau bepergian, silahkan tamu tersebut singgah ke rumah barang sejenak dan hormatilah mereka dengan baik. Kemudian, pintu rumah jangan ditutup sebelum jam 22.00,” demikian pesan KH. Syafa’at kepada keluarga dan para santri.
KH Syafaat juga dikenal sebagai pribadi yang penuh kesedehanaan, qanaah, teguh menjaga muru’ah (harga diri) dan luhur budinya. Ia tidak pernah merasa rendah di hadapan orang-orang yang kaya, apalagi sampai merendahkan diri pada mereka dan ia tidak malas beribadah karena kefakirannya. Bahkan jika disedekahi harta, ia tidak mau menerima. Sekalipun diterima itu pun hanya sebatas yang diperlukan saja, tidak tamak untuk mengumpulkannya.
Bahkan Kyai Sya’aat dikenal punya semangat memberi dan memuaskan setiap orang yang datang kepadanya. Pernah suatu saat Kyai Syafa’at akan berangkat Haji, terlebih dahulu ia berziarah ke makam Sunan Ampel di Surabaya. Lepas dari komplek makam, ia bertemu dengan ratusan pengemis dan ia memberikan shodaqah kepada para pengemis di sekitar makam sampai uangnya habis. Bahkan karena sebagian pengemis itu tidak kebagian, ia kemudian menyuruh salah satu santrinya untuk mencarikan hutangan sejumlah empat juta rupiah kepada Masyhuri di Surabaya untuk disedekahkan kepada para pengemis yang tidak kebagian.
Tidak hanya itu, sering uang bisyaroh selepas mengisi pengajian di banyak tempat di berikan langsung kepada orang-orang yang tidak dikenalnya, tanpa menghitung jumlah uang yang diterimanya. Selain dermawan akan harta dan ilmu, KH Syafa’at dikenal seorang ulama yang wira’i ( menjaga kehormatan).
Suatu ketika Kyai bepergian dengan ditemani oleh salah satu sopir, H Mudhofar, sampai di Karangdoro mobilnya rusak (mogok). Akhirnya mobil dibenahi dan oleh H. Mudhofar diambilkan batu bata untuk mengganjal mobil, di salah satu perumahan penduduk. Setelah selesai, mobil berjalan dan KH Syafa’at bertanya,”Batu bata itu milik siapa? Kalau punya orang, kembalikan!” Akhirnya mobil berhenti dan batu bata tersebut oleh H. Mudhofar dikembalikan ke tempatnya semula.
Selain aktif dalam kegiatan kemasyarakatan, KH. Syafa’at juga aktif dalam Jami’ah Keagamaan Nahdlatul Ulama. Tercatat, ia pernah menjadi pengurus dari tingkat ranting sampai cabang. Jabatan terakhirnya adalah sebagai salah satu Mustasyar wilayah Banyuwangi, Jawa Timur.
KH Syafaat pada hari Jumat malam, 1 Februari 1991 (17 Rajab 1411 H) dengan meninggalkan 14 anak (10 putra, 4 putri) dari perkawinannya dengan Nyai Siti Maryam dan 7 anak (4 putra, 3 putri) dari perkawinannya dengan Nyai Hj Musyarofah. Jenazah setelah disemayamkan di rumah duka dan dishalati oleh mu’aziyin sampai 17 kali kemudian dimakamkan komplek makam keluarga, sekitar 100 meter arah utara dari Pesantren Darussalam, Blokagung, Banyuwangi.
AST/Ft AST
Suatu waktu, Kyai Dimyati (putra KH Ibrahim) mengalami jadzab (“nyleneh”). Ia mengusir Syafa’at dan kedua sahabatnya yang bernama Mawardi dan Keling. Ketiganya adalah santri yang dibencinya. Saat Kyai Syafa’at sedang mengajar, Kyai Dimyati (Syarif) melemparinya dengan maksud agar Syafa’at meninggalkan pondok. Akhirnya Syafa’at meningalkan Pondok Pesantren Jalen Genteng yang diikuti oleh salah satu santri yang bernama Muhyidin, santri asal Pacitan ke kediaman kakak perempuannya Uminatun yang terletak di Blokagung.
Selama di Blokagung ini, ia mulai mengajar di Musala milik kakak perempuanya itu. Mula-mula ia Al-Qur’an dan beberapa kitab dasar kepada para pemuda masyarakat sekitar dan akhirnya para santri yang dahulu menetap di Pondok Pesantren Jalen Genteng turut belajar di Musala kecil itu. Beberapa bulan kemudian, musala itu sudah tidak dapat menampung lagi para santri yang ingin belajar kepadanya. Akhirnya, tempat belajar pindah ke masjid milik Kyai Hamid yang berada tidak jauh dari musala.
Itulah sekilas latar belakang KH Muktar Syafaat Abdul Ghafur seorang ulama dan guru panutan umat. Ia lahir di dusun Sumontoro, Desa Ploso Lor, Kec Ploso Wetan, Kediri, 6 Maret 1919. Ia adalah putra keempat dari pasangan suami-isteri KH Abdul Ghafur dan Nyai Sangkep. Kalau dilihat dari silsilah keturunan, KH Mukhtar Syafa’at merupakan salah seorang keturunan pejuang dan ulama, dari silsilah ayahnya, yakni KH Mukhtar Syafa’at putra dari Syafa’at bin Kyai Sobar Iman bin Sultan Diponegoro III (keturunan prajurit Pangeran Diponegoro) dan garis ibu, yaitu Nyai Sangkep binti Kyai Abdurrohman bin Kyai Abdullah (keturunan prajurit Untung Suropati).
Sejak usia kanak-kanak (4 tahun), Syafa’at telah menunjukkan sikap dan perilaku cinta terhadap ilmu pengetahuan dan berkemauan keras mendalami agama Islam. Setiap sore hari, ia tekun mengaji ke mushola terdekat yang saat itu diasuh oleh Ustadz H. Ghofur. Dari sinilah ia mulai belajar membaca Al-Qur’an, tajwid dan Sulam Safinah. Pada tahun 1925 (usia 6 tahun), Syafa’at kemudian mengaji ke Kyai Hasan Abdi selama 3 tahun di desa Blokagung, Tegalsari, Banyuwangi.
Selepas dikhitan pada tahun 1928, ia kemudian melanjutkan ke Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang yang saat itu diasuh oleh KH. Hasjim Asy’ari. Di pesantren ini, ia seperti umumnya santri-santri lain mendalami ilmu-ilmu agama Islam seperti Ilmu Nahwu, Shorof, Fiqih, Tafsir Al-Qur’an dan Akhlaq Tasawuf. Setelah 6 tahun menimba ilmu di Pondok Tebuireng, pada tahun 1936 ia diminta pulang oleh ayahnya agar saudaranya yang lain secara bergantian dapat mengenyam pendidikan pesantren.
Permintaan tersebut ditampiknya secara halus, karena ia ingin mendalami dan menguasai ilmu-ilmu pesantren. Atas saran salah satu kakaknya, yakni Uminatun (Hj. Fatimah) pada tahun 1937 ia akhirnya meneruskan studi ke Pondok Pesantren Minhajut Thulab, Sumber Beras, Muncar, Banyuwangi yang diasuh KH. Abdul Manan.
Selama menjadi santri di ponpes Minhajut Thulab, Syafa’at sering jatuh sakit. Setelah satu tahun, ia akhirnya pindah lagi ke Ponpes Tasmirit Tholabah yang diasuh oleh KH Ibrahim. Di pondok ini selain belajar, ia juga dipercaya oleh KH Ibrahim untuk mengajar ke santri lain. Di Pondok ini juga, Syafa’at mulai mengkaji ilmu-ilmu tasawuf, seperti belajar kitab Ihya Ulumiddin karya Syekh Imam Al-Ghozali.
Pemahaman ini tidak sebatas pelajaran teori saja, namun juga ia praktekan secara langsung seperti saat mandi, shalat fardhu, dan berhubungan dengan lain jenis. Saat mandi, ia tidak pernah menanggalkan seluruh pakaiannya, dan tidak pernah melihat auratnya. Selain itu, selama di Ponpes Tasmirit Tholabah ia senantiasa shalat berjamaah di masjid. Padahal, ia termasuk kriteria “santri kasab”, yaitu santri yang mondok sambil bekerja kepada masyarakat sekitar.
Selama masih menuntut ilmu dan merasa belum waktunya menikah, Mukhtar Syafa’at senantiasa memelihara diri dan menjaga jarak dengan hubungan lain jenis. Suatu hari, ia oleh teman-teman santri dijodoh-jodohkan dengan seorang gadis masyarakat sekitar Pondok Tasmirit Tholabah. Apa reaksinya? Ia justru bersikap dan berperilaku layaknya orang gila dengan cara memakai pakaian yang tidak wajar. Dengan demikian, gadis yang dijodoh-jodohkan tersebut beranggapan bahwa Syafa’at adalah benar-benar gila, dan praktis keberatan bila dijodohkan.
Pengembaraan kyai Syafaat dalam menuntut ilmu adalah perjalanan panjang yang menuntut perjuangan, ketabahan hati dan pengorbanan. Ia seringkali dalam situasi dan kondisi yang memprihatinkan. Salah seorang sahabatnya ketika belajar di Ponpes Tasmirit Tholabah, KH Mu’allim Syarkowi menuturkan keadaannya,”KH Syafa’at(Alm) ketika belajar di Pondok Tasmirit Tholabah, Jalan Genteng Banyuwangi, sangatlah menderita. Ia sering jatuh sakit, terutama penyakit kudis (gudik). Disamping itu, ia tidak mendapat kiriman dari orang tuanya sehingga harus belajar sambil bekerja. Apabila musim tanam dan musim panen tiba, kami harus mendatangi petani untuk bekerja. Pagi-pagi benar kami harus sudah berangkat dan menjelang Dzuhur kami baru pulang. Sedangkan malam hari kami gunakan untuk belajar mengaji.”
Walaupun dalam kondisi yang memprihatinkan, Kyai Syafa’at tetap bersikeras untuk mendalami ilmu-ilmu agama Islam. Semasa masa pendudukan Jepang antara tahun 1942-1945, ia juga turut berperan aktif dalam bela negara dan merebut kemerdekaan RI.Oleh teman-teman seperjuangan, ia diangkat sebagai juru fatwa dan sumber ide dalam penyerangan. Setiap akan melangkah, mereka meminta pertimbangan dahulu kepada Syafa’at.
Pada jaman pendudukan Jepang, Syafa’at tidak luput dari gerakan Dai Nippon Jepang yang bernama Hako Kotai, yaitu gerakan pemerasan terhadap harta, jiwa dan harta bangsa Indonesia demi kemenangan Perang Asia Timur Raya. dalam gerakan ini, Syafa’at diwajibkan mengikuti kerja paksa selama 7 hari di Tumpang Pitu (pesisir laut pantai selatan teluk Grajagan dan Lampon). Ia dipekerjakan sebagai penggali parit perlindungan tentara Jepang.
Saat Belanda mendarat di pelabuhan Meneng, Sukowati, Banyuwangi Syafa’at tidak tinggal diam. Ia bergabung dalam Barisan Keamanan Rakyat yang dipimpin Kapten Sudarmin. Syafa’at juga turut aktif melakukan penyerbuan ke kamp-kamp tentara Belanda saat perang gerilya dengan bergabung dalam Font Kayangan Alas Purwo dan Sukamande kecamatan Pesangaran yang dipimpin Kyai Muhammad dan Kyai Musaddad.
Lepas dari alam penjajahan Jepang dan Belanda, tepatnya pada tahun 1949 ia mulai merintis berdirinya Pesantren Darussalam. Setelah melalui perjuangan yang berat, pesantren Darussalam akhirnya berkembang dari waktu ke waktu dan jumlah santrinya pun semakin bertambah banyak. Ini tak lepas dari sosok pendiri dan pengasuh pesantren KH Syafa’at yang menjadi sosok teladan sekaligus panutan umat.
Ia juga kerap dimintai pertolongan untuk melakukan pengobatan masyarakat. Dengan cara menulis lafadz Ya’lamuuna, selepas itu pada huruf ‘Ain ditancapkan paku sambil dipukul palu. Sesekali KH Syafa’at menanyai pasien, apakah masih sakit atau tidak. Kalau masih sakit, dipukul lagi dan jika makin parah maka pada huruf Mim juga akan ditancapkan paku dan dipukul lagi sebagaimana huruf ‘Ain. Konon, pengobatan tradisional ini banyak melegakan pasien. Selain itu, ia juga sering dimintai untuk mengobati dan menangkal gangguan santet dan sejenisnya. Sehingga rumahnya kerap dikunjungi para tamu dari berbagai daerah. “Kalau kalian mengetahui ada tamu, maka beri tahu saya. Kalau saya tidak ada atau bepergian, silahkan tamu tersebut singgah ke rumah barang sejenak dan hormatilah mereka dengan baik. Kemudian, pintu rumah jangan ditutup sebelum jam 22.00,” demikian pesan KH. Syafa’at kepada keluarga dan para santri.
KH Syafaat juga dikenal sebagai pribadi yang penuh kesedehanaan, qanaah, teguh menjaga muru’ah (harga diri) dan luhur budinya. Ia tidak pernah merasa rendah di hadapan orang-orang yang kaya, apalagi sampai merendahkan diri pada mereka dan ia tidak malas beribadah karena kefakirannya. Bahkan jika disedekahi harta, ia tidak mau menerima. Sekalipun diterima itu pun hanya sebatas yang diperlukan saja, tidak tamak untuk mengumpulkannya.
Bahkan Kyai Sya’aat dikenal punya semangat memberi dan memuaskan setiap orang yang datang kepadanya. Pernah suatu saat Kyai Syafa’at akan berangkat Haji, terlebih dahulu ia berziarah ke makam Sunan Ampel di Surabaya. Lepas dari komplek makam, ia bertemu dengan ratusan pengemis dan ia memberikan shodaqah kepada para pengemis di sekitar makam sampai uangnya habis. Bahkan karena sebagian pengemis itu tidak kebagian, ia kemudian menyuruh salah satu santrinya untuk mencarikan hutangan sejumlah empat juta rupiah kepada Masyhuri di Surabaya untuk disedekahkan kepada para pengemis yang tidak kebagian.
Tidak hanya itu, sering uang bisyaroh selepas mengisi pengajian di banyak tempat di berikan langsung kepada orang-orang yang tidak dikenalnya, tanpa menghitung jumlah uang yang diterimanya. Selain dermawan akan harta dan ilmu, KH Syafa’at dikenal seorang ulama yang wira’i ( menjaga kehormatan).
Suatu ketika Kyai bepergian dengan ditemani oleh salah satu sopir, H Mudhofar, sampai di Karangdoro mobilnya rusak (mogok). Akhirnya mobil dibenahi dan oleh H. Mudhofar diambilkan batu bata untuk mengganjal mobil, di salah satu perumahan penduduk. Setelah selesai, mobil berjalan dan KH Syafa’at bertanya,”Batu bata itu milik siapa? Kalau punya orang, kembalikan!” Akhirnya mobil berhenti dan batu bata tersebut oleh H. Mudhofar dikembalikan ke tempatnya semula.
Selain aktif dalam kegiatan kemasyarakatan, KH. Syafa’at juga aktif dalam Jami’ah Keagamaan Nahdlatul Ulama. Tercatat, ia pernah menjadi pengurus dari tingkat ranting sampai cabang. Jabatan terakhirnya adalah sebagai salah satu Mustasyar wilayah Banyuwangi, Jawa Timur.
KH Syafaat pada hari Jumat malam, 1 Februari 1991 (17 Rajab 1411 H) dengan meninggalkan 14 anak (10 putra, 4 putri) dari perkawinannya dengan Nyai Siti Maryam dan 7 anak (4 putra, 3 putri) dari perkawinannya dengan Nyai Hj Musyarofah. Jenazah setelah disemayamkan di rumah duka dan dishalati oleh mu’aziyin sampai 17 kali kemudian dimakamkan komplek makam keluarga, sekitar 100 meter arah utara dari Pesantren Darussalam, Blokagung, Banyuwangi.
AST/Ft AST

Candi Alas Purwo Banyuwangi
07.41.00
Taman Nasional Alas Purwo (atau biasa
disingkat Alas Purwo) terletak di ujung timur Pulau Jawa, tepatnya di
Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Bagi masyarakat sekitar, nama alas
purwo memiliki arti sebagai hutan pertama, atau hutan tertua di pulau
Jawa. Oleh sebab itu tak heran masyarakat sekitar menganggap Alas Purwo
sebagai hutan keramat.
Sehingga selain diminati sebagai tujuan wisata alam, kawasan Alas Purwo juga diyakini memiliki situs-situs yang dianggap mistis yang mejadi magnet bagi peziarah untuk melakukan berbagai ritual.
Sehingga selain diminati sebagai tujuan wisata alam, kawasan Alas Purwo juga diyakini memiliki situs-situs yang dianggap mistis yang mejadi magnet bagi peziarah untuk melakukan berbagai ritual.
Banyak tempat wisata di alas purwo itu sendiri salah satunya adalah Candi Alas purwo.
Candi alas purwo adalah tempat wisata religi dan tempat ibadah bagi umat Hindu, terletak di Gumuk Gadung Dusun Pondok asem Desa Kedungasri. Gumuk Gadung masuk areal Teluk Pangpang yaitu teluk yang mempunyai keindahan luar biasa,
Disekitarnya dielilingi oleh hutan mangruf yang mempesona sehingga mampu membuat susana disekitar menjadi sejuk dan mampu menghilangkan beban fikiran.
Candi alas purwo adalah tempat wisata religi dan tempat ibadah bagi umat Hindu, terletak di Gumuk Gadung Dusun Pondok asem Desa Kedungasri. Gumuk Gadung masuk areal Teluk Pangpang yaitu teluk yang mempunyai keindahan luar biasa,
Disekitarnya dielilingi oleh hutan mangruf yang mempesona sehingga mampu membuat susana disekitar menjadi sejuk dan mampu menghilangkan beban fikiran.
Candi Alas Purwo yang merupakan tempat
Wisata Religi yang banyak didatangi orang baik orang hindu dari Bali
atau dari Kecamatan Tegaldlimo sendiri dan Juga dari Agama lain yang
ingin bersemedi di Candi Alas Purwo.
Untuk akses menuju candi alas purwo tidaklah sulit dari kota banyuwangi menuju tegaldlimo membutuhkan waktu perjalan 2 jam dan jalanya lumayan bagus beraspal. Dari tegaldlimo menuju alas purwo membutuhkan waktu 1 jam perjalanan saja ditambah akses jalanya suah diperbaiki sehingga bisa membutuhkan waktu yang relatif singkat.
Akhir perjalan akan tiba di pos perhutani taman nasional alas purwo, dari sini kendaraan bisa dititipkan di pos.
Untuk akses menuju candi alas purwo tidaklah sulit dari kota banyuwangi menuju tegaldlimo membutuhkan waktu perjalan 2 jam dan jalanya lumayan bagus beraspal. Dari tegaldlimo menuju alas purwo membutuhkan waktu 1 jam perjalanan saja ditambah akses jalanya suah diperbaiki sehingga bisa membutuhkan waktu yang relatif singkat.
Akhir perjalan akan tiba di pos perhutani taman nasional alas purwo, dari sini kendaraan bisa dititipkan di pos.
Klenteng Ho Tong Bio
07.38.00
Di Banyuwangi terdapat tempat bersejarah
umat Tionghoa dan tempat tersebut juga dijadikan sebagai tempat
peribadatan umat Tionghoa. Bertempat di kelurahan karangejo kecamatan
kota Banyuwang , tepatnya didaerah pecinan, tempat dimana orang-orang
banyuwangi keturunan cina tinggal. Tempat itu adalah Klenteng Ho Tong
Bio, klenteng tersebut dijuluki benteng perlindungan bagi orang-orang
cina dan didirikan sekitar tahun 1768-1764 oleh Tan Hu Cin Jin.
Pembangunan Klenteng Ho Tong Bio
diperuntuhkan untuk mengenang jasa seorang kapiten yang bernama Tan Hu
Cin Jin, yang saat itu terjadi pembantaian orang cina oleh Batavia.
Kemudian sang kapiten dan para krunya memimpin pelarian orang-orang
cina, tetapi kapalnya terdampar di Banyuwangi dan akhirnya mereka
memutuskan untuk tinggal di Banyuwangi. Untuk mengenang jasa dan
menghormati kebesaran sang nahkoda tersebut, maka setiap hari
kelahiranya diperingati secara besar-besaran.
Setiap awal Tahun Baru Imlek, Klenteng
Hoo Tong Bio melakukan ritual tolak bala (Hokkien=ci suak) dan ulang
tahun bertahtanya Kongco Chen Fu Zhen Ren di Hoo Tong Bio. Perayaan
ulang tahun diwarnai pluralisme kebudayaan dan seringkali menampilkan
pertunjukan lokal seperti barongan, reog (Ponorogo), dan wayang kulit.
Selain itu, juga dilakukan kegiatan sosial seperti donor darah, berbagai
pertandingan olahraga, dan pembagian sembako kepada masyarakat kurang
mampu.
Klenteng Ho Tong Bio memiliki arsitektur
yang unik, mulai dari pintu gerbangnya hingga bangunan utamanya. Pintu
utama untuk masuk ke klenteng memiliki tiga buah pintu, dua buah pintu
dperuntuhkan untuk umat yanga akan melakukan sembahyang dan pintu
depannya dikgunakan untuk melakukan acara ritual keagamaan. Klenteng
tersebut didominansi oleh warna merah yang menurut kepercayaan orag cina
berarti kegembiraan, kebahagiaan dan kesejahteraan.
Konsepnya pintu masuk utama pada
klenteng ini didasari dari prinsip Yin dan Yang, yaitu sebelah kiri
adalah pintu masuk (disimbolkan dengan simbol naga) sedangkan sebelah
kanan adalah pintu keluar (disimbolkan dengan harimau putih). Orang cina
percaya untuk masuk melalui pintu naga dan keluar melalui pintu
harimau, arena memiliki arti simbolik memasuki keberuntungan (naga) dan
keluar dari kemalangan (harimau). Sedangkan pintu tengah diperuntuhkan
untuk para Roh Suci.
Gua Maria Jatiningrum Curahjati Banyuwangi
23.01.00
Gua Maria Curahjati merupakan salah satu tempat ziarah umat katolik di Dusun Curahjati(45 km dari Banyuwangi), Purwoharjao, Banyuwangi, dan merupakan tempat ideal untuk meditasi sebagai sarana berdevosi dan penghormatan kepada Bunda Maria.
Lokasi Gua Santa Maria tidak jauh dari Pantai Grajagan Banyuwangi.
Lokasi Gua Santa Maria tidak jauh dari Pantai Grajagan Banyuwangi.
Awal mula Gua Maria Curahjati dibangun pada tahun 1945/1955. Gua ini diberkati oleh Mgr AEJ Albers Ocarm pada tanggal 15 agustus 1965. Sebelum dikenal sebagai Gua Maria Curahjati, gua tersebut oleh orang sekitar dikenal dengan nama Gua Maria Waluyaning Tiyang Sakit. Kemudian namanya diganti menjadi Gua Maria Jatiningrum. Gua Maria Jatiningrum berada di Dusun Curahjati, Desa Grajagan, Kabupaten Banyuwangi bagian selatan. Dalam wilayah gerejani, dusun Curahjati termasuk wilayah Paroki Ratu Para Rasul Curahjati, Keuskupan Malang. Paroki ini merupakan salah satu dari tiga paroki yang ada di Kabupaten Banyuwangi (Paroki Banyuwangi dan Paroki Genteng) yang merupakan cikal bakal dari Keuskupan Malang.
Perkembangan Gereja di daerah ini berawal pada tahun 1925 dengan kedatangan orang-orang Katolik asal Boro, Kalibawang dan Kulonprogo. Beberapa dari mereka adalah orang-orang Katolik yang dipermandikan di Sendangsono pada tahun 1924. Empat tahun kemudian, tepatnya pada 12 Januari 1928, terjadi permandian pertama di Curahjati yang dilakukan oleh Pastor Emanuel Stutient OCarm. Gua Maria Jatiningrum merupakan salah satu buah iman dari umat Katolik di daerah ini.
Pembangunan gua tersebut diperuntuhkan Kepada Maria, Bunda yang Tak Bercela Hatinya Bunda Maria, Perawan yang amat manis, Bunda yang berbelas kasih, Ratu Sorga dan pengungsian bagi para pendosa, kami mempersembahkan diri kami kepada Hatimu yang tak bercela. Kami mempersembahkan kepadamu keberadaan kami dan seluruh hidup kami: Semua yang kami miliki, semua yang kami kasihi, seluruh keadaan kami. Kami mempersembahkan kepadamu tubuh kami, hati kami, jiwa kami, rumah kami, keluarga kami, negara kami. Inilah harapan kami bahwa setiap hal dalam diri kami, setiap hal di sekitar kami menjadi milikmu dan kami boleh ikutserta merasakan kehangatan rahmat kasih keibuanmu. Dan, semoga persembahan ini benar-benar berguna dan abadi, dan kami perbaharui kembali saat ini di bawah kakimu, ya Bunda Maria, janji baptis kami dan janji Komuni Pertama kami. Kami pun berjanji dengan mantap untuk selalu membela kebenaran iman kami yang suci, untuk hidup sebagai orang Katolik yang penuh dan setia kepada seluruh petunjuk ajaran Bapa Suci dan Bapa Uskup.
Kami berjanji pula untuk memelihara perintah–perintah Allah dan Gereja, khususnya untuk menguduskan hari Tuhan. Kami berjanji untuk membuat bagian kehidupan kami sedapat mungkin, sebagai praktek hidup orang Katolik yang menyenangkan dan menerima komuni suci. Kami berjanji kepadamu, ya Bunda Allah yang mulia, dan Bunda umat manusia yang lembut, untuk menempatkan seluruh hati kami ke dalam pelayanamu, mempercepat dan meyakinkan bahwa melalui pemerintahan hatimu yang tak bercela, Hati Puteramu yang patut disembah-sembah akan memerintah jiwa kami dan setiap jiwa, dalam negeri tercinta ini, dan dalam seluruh alam semesta di bumi dan di sorga. Amin.
Kami berjanji pula untuk memelihara perintah–perintah Allah dan Gereja, khususnya untuk menguduskan hari Tuhan. Kami berjanji untuk membuat bagian kehidupan kami sedapat mungkin, sebagai praktek hidup orang Katolik yang menyenangkan dan menerima komuni suci. Kami berjanji kepadamu, ya Bunda Allah yang mulia, dan Bunda umat manusia yang lembut, untuk menempatkan seluruh hati kami ke dalam pelayanamu, mempercepat dan meyakinkan bahwa melalui pemerintahan hatimu yang tak bercela, Hati Puteramu yang patut disembah-sembah akan memerintah jiwa kami dan setiap jiwa, dalam negeri tercinta ini, dan dalam seluruh alam semesta di bumi dan di sorga. Amin.
Rute untuk menuju Gua Maria Curahjati tidaklah befitu sulit, dengan jalan yang cukup bagus dan pemandangan alam disekitarnya membuat perjalan menuju lokasi begitu menyenangkan,
Ada dua rute yang bisa dipakai menuju gua maria curahjati Dari Surabaya – Banyuwangi, Keluar kota Banyuwangi ke Jember setelah melewati Rogojampi belok ke kiri ke arah Purwoharjo – Pantai Grajagan, belok ke kiri ke Curahjati, lokasi Gua Maria Jatiningrum.
Dari Surabaya/Malang – Jember ke arah Banyuwangi, setelah di Genteng belok ke kanan ke arah Purwoharjo – Pantai Grajagan, belok ke kiri ke Curahjati, lokasi Gua Maria Jatiningrum.
Ada dua rute yang bisa dipakai menuju gua maria curahjati Dari Surabaya – Banyuwangi, Keluar kota Banyuwangi ke Jember setelah melewati Rogojampi belok ke kiri ke arah Purwoharjo – Pantai Grajagan, belok ke kiri ke Curahjati, lokasi Gua Maria Jatiningrum.
Dari Surabaya/Malang – Jember ke arah Banyuwangi, setelah di Genteng belok ke kanan ke arah Purwoharjo – Pantai Grajagan, belok ke kiri ke Curahjati, lokasi Gua Maria Jatiningrum.
Pura Luhur Giri Saloka Banyuwangi
22.59.00
Alas purwo Bayuwangi menyajikan berbagai potensi wisata yang begitu menarik untuk dikunjungi, salah satu diantaranya adalah Pura Luhur Giri Seloka. Sebuah pura kuno bersejarah yang tersembunyi ditengah hutan dan hijau di alas purwo, meskipun letaknya ditengah hutan akan tetapi tempat tersebut selalu ramai dikunjungi oleh umat hindu di jawa dan bali.
Para peziarah umat hindu biasa datang ke Pura Luhur Giri Saloka saat merayakan hari raya pagerwesi, hari raya tersebut diperuntukan untuk menyucikan benda keramat dengan menggunakan air yang berasal dari 7 mata air yang berbeda. Pura tesebut sungguh disakralkan oleh masyarakat hindu disekitar wilayah alas purwo dan oleh orang hindu bali.
Tidak hanya didatangi oleh umat hindu saja tetapi oleh wisatawan lainnya. Tempat pura tersebut bisa dijadikan wisata religi maupun wisata sejarah. Saat menuju Pura mata kita disuguhi oleh hutan tropis yang belum pernah dilihat sebelumnya, semacam suara suara aneh dari berbagai jenis burung akan mengiringi lahkah kita sehingga tidak akan mengalami pejalanan yang membosankan.
Untuk akses menuju Pura Giri Saloka tidaklah sulit, dari kota banyuwangi menuju Tegaldlimo membutuhkan waktu perjalan 2 jam dan jalanya lumayan bagus beraspal. Dari Tegaldlimo menuju alas purwo membutuhkan waktu 1 jam perjalanan saja ditambah akses jalanya suah diperbaiki sehingga bisa membutuhkan waktu yang relatif singkat.
Akhir perjalan akan tiba di pos perhutani taman nasional alas purwo, dari sini kendaraan bisa dititipkan di pos.
Para peziarah umat hindu biasa datang ke Pura Luhur Giri Saloka saat merayakan hari raya pagerwesi, hari raya tersebut diperuntukan untuk menyucikan benda keramat dengan menggunakan air yang berasal dari 7 mata air yang berbeda. Pura tesebut sungguh disakralkan oleh masyarakat hindu disekitar wilayah alas purwo dan oleh orang hindu bali.
Tidak hanya didatangi oleh umat hindu saja tetapi oleh wisatawan lainnya. Tempat pura tersebut bisa dijadikan wisata religi maupun wisata sejarah. Saat menuju Pura mata kita disuguhi oleh hutan tropis yang belum pernah dilihat sebelumnya, semacam suara suara aneh dari berbagai jenis burung akan mengiringi lahkah kita sehingga tidak akan mengalami pejalanan yang membosankan.
Untuk akses menuju Pura Giri Saloka tidaklah sulit, dari kota banyuwangi menuju Tegaldlimo membutuhkan waktu perjalan 2 jam dan jalanya lumayan bagus beraspal. Dari Tegaldlimo menuju alas purwo membutuhkan waktu 1 jam perjalanan saja ditambah akses jalanya suah diperbaiki sehingga bisa membutuhkan waktu yang relatif singkat.
Akhir perjalan akan tiba di pos perhutani taman nasional alas purwo, dari sini kendaraan bisa dititipkan di pos.
Makam Datuk Malik Ibrahim Banyuwangi
22.48.00
Ingin menikmati liburan religi dengan suasana yang berbeda? inilah solusinya, tempatnya terletak tidak begitu jauh dari kota Banyuwangi, bahkan masuk ke kota banyuwangi itu sendiri. Salah satu tujuan wisata religi yang populer di Banyuwangi adalah makam Waliyullah Syekh Abdurrahim bin Abu Bakar bin Abdurrahman atau yang akrab di sebut Datuk Ibrahim. Makam Waliyullah keturunan Arab Saudi itu terletak di Desa Lateng Banyuwangi. Letak makam tersebut berada di pusat dan keramaian kota. Tokoh tersebut oleh para kelompok pengikutnya dijadikan sebuah mitos untuk dijadikan sebagai panutan orang agar memberikan arahan kepada orang agar memberikan arahan kepada manusia agar tidak terjerumus ke jalan yang tidak diridhoi allah SWT.
Datuk Malik Ibrahihim Bauzir dikenal oleh masyarakat Banyuwangi sebagai seorah tokoh ulama yang begitu gigih menyebarkan agama islam di jawa dan bali, sehingga banyak peziarah yang datang untuk bertawaduk dan berzikir ke tempat makam Datuk Ibrahim, khususnya pada malam jum’at legi karena menurut sebagian orang pada malam jum’at legi adalah malam yang paling baik atau penuh rahmat.
Selain makam Datuk Malik Ibrahim ada juga makam para cantrik Datuk Malik Ibrahim dahulunya tepatnya. Ribuan penziarah dari berbagai daerah datang silih berganti ke makam salah satu penyebar agama islam di bumi blambangan ini. Dalam catatan juru kunci, makam datuk ibrahim tersebut tidak hanya di kunjungi oleh masyarakat biasa. Namun, kalangan pejabat sipil maupun militer sering datang mengunjungi makam tokoh yang meninggal dunia pada tahun 1876 itu. Juru kunci di makam Datuk Ibrahim ini adalah Habib Kadir.
Menurut Habib Kadir Dalam tahun ketahun pengunjung atau peziarah terus bertambah bahkan dalam setahun, pengunjung kira-kira mencapai 36 ribu peziarah. Pengunjung makam tersebut tidak hanya dari sekitar banyuwangi saja melainkan dari berbagai daerah di indonesia bahkan ada juga warga dari malaysia dan singapura. Tak disangkal lagi kemashuran beliau terkenal sampai ke luar negeri.
Lokasi makam ini terletak di tepi jalan raya tepatnya jalan basuki rahmad dalam kota banyuwangi. Para pengunjung bisaanya berdo’a dengan membaa yasin dan tahlil. Para peziarah yan datang bisaanya ramai pada malam jum’at legi, jumahnya mencapai 100 orang.Kelurahan Lateng terletak di Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi, Propinsi Jawa Timur. Jarak Kelurahan Lateng dari kota Banyuwangi kurang lebih 2,5 km, jarak ke ibu kota Kecamatan krang lebih 2,5 km. waktu tempuh masing-masing tempat kurang lebih 0,15 jam dari kota Banyuwangi.
Secara administrasi, batas wilayah Kelurahan Lateng, dari sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Klatak, dari sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Temenggungan, dari sebelah barat berbatasan dengan kelurahan Singotrunan . dan dari sebelah timur berbatasan dengan kelurahan K.P Mandar.
